Belajar Menulis

Blogger templates

17 Jun 2013

Posted by abrar meli on 19:43 | 1 comment



LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM
DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN
Pengenalan Penyakit Disebabkan Oleh Bakteri dan Virus


I. PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Penyakit tanaman merupakan suatu yang menyimpan dari keadaan normal dan dapat menyebabkan kerugian langsung pada tanaman. Tanaman dapat mati karena akar dan pangkal batangnya yang rusak karena adanya penyakit tanaman, maka kerusakan pada tanaman adalah di sebabkan karena adanya perubahan dan menurunya kuantitas dan kualitas pada tanaman.
Tanaman dapat menunjukan gejala perubahan bentuk, dan kelayuan pada tanaman, tanaman dapat menujukan kelompok gejala yang membentuk gambaan penyakit atau sidrom  penyakit yang di sebakan oleh penyebab abiotik dan biotik. Suatu tanaman dapat di katakana sehat atau normal, jika tanaman tersebut dapat menjalankan fungsi-fungsi fisiolgis dengan seperti perkembangan dan pembelah sel (Anonim, 2009).
Penyakit pada tumbuhan dapat di temukan dalam bentuk geja dan tanda, dan tanaman dapat berjangkit sejak tanaman dapat berubah benih, dan selama bibit tanaman tumbuh dilapangan hingga panen dan tempat penyimpanan pasca panen, sehingga dapat menimbulkan kerugian secara tidak langsung oleh masyarakat khusus pada petani (Setijo, 2001).
Penyakit pada tanaman disebabkan oleh patogen penyakit yaitu bakteri, dan virus yang kesemuanya disebut mikroorganisme lainnya.  Karena ukurannya sangat kecil dan halus maka tidak dapat dilihat dengan kasat mata maka digunakan mikroskop elektron (Anonim, 2009).
1.2  Tujuan dan Keguanaan
Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengamati dan mendiagonis gejala-gejala penyakit pada tumbuhan yang di sebabkan oleh bakteri dan virus.
Kegunaan dari praktikum ini adalah untuk mengatahui gejala yang di timbulkan oleh bakteri dan virus pada tanaman sehingga mempermudah dalam melakukan dalam pengendalian.













II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Klasifikasi Patogen
Bakteri termasuk dalam kingdom monera.  Di mana Kingdom Monera terbagi menjadi Filium Eubacteria.   Di sini, Eubacteria bakteri dibagi lagi menjadi Kelas cyanobacteria, Ordo Eubacteriales (Filzaharani, 2008).   
Cyamydobacteriales memiliki sel tegar dan menyerupai ganggang.  Myxobacteriales memiliki sel yang lentur dan bergerak secara merangkak.  Spirochaetales memiliki sel lentur berbentuk spiral dan dapat bergerak                (Pracaya, 2007).
Virus termasuk ke dalam divisio Protophyta, kelas Mikrotatobiotes dan ordo Virales (Virus). Pada tahun 1976 ICTV (International Commite on Taxonomy of Virus) Pada 4 famili (Poxviridae, Herpesviridae, Parvoviridae, Paramyxoviridae), kelompok besar yang disebut sub famili didefinisikan dengan mempertimbangkan kompleksitas hubungan di antara anggota virus.  Jenis-jenis virus digunakan untuk mengelompokkan famili virus yang memiliki karakter yang umum.  Hanya satu jenis saat ini yang telah didefinisikan, yaitu Famili Mononegavirales, meliputi famili Filoviridae, Paramyxoviridae, dan Rhabdoviridae (Filzaharani, 2008).   
2.2  Mekanisme Penyakit Patogen
Penyakit yang disaebabkan oleh Virus dan Bakteri dapat menginfeksi  melalui tanah dan alat-alat pertanian yang digunakan serta bibit yang di gunakan bila mengandung penyakit dapat juga menularkannya. Daur hidupnya adalah inokulasi terjadi apabila bakteri  dan virus masuk dan menginfeksi tanaman.  (Setiadi, 2000). 
Banyak bakteri memiliki struktur di luar sel lainnya seperti flagela dan fimbria yang digunakan untuk bergerak, melekat dan konjugasi. Beberapa bakteri juga memiliki kapsul atau lapisan lendir yang membantu pelekatan bakteri pada suatu permukaan dan biofilm formation. Bakteri juga memiliki kromosom, ribosom dan beberapa spesies lainnya  memiliki granula makanan, vakuola gas  dan  magnetosom.  Pada tubuh bakteri terdapat kromosom dan plastid.  Tidak seperti eukariota, kromosom bakteri tidak dikelilingi membran bound nucleus melainkan ada di dalam sitoplasma sel bakteri yang  berarti translasi, transkripsi dan replikasi DNA semuanya terjadi di tempat yang sama dan dapat berinteraksi dengan struktur sitoplasma lainnya, salah satunya ribosom.  Kebanyakan bakteri memiliki plasmid.  Plasmid dapat dengan mudah didapat oleh bakteri.  Namun, bakteri juga mudah untuk menghilangkannya.  Plasmid dapat diberikan kepada bakteri lainnya dalam bentuk transfer gen horizontal (Runtuwene, 2008).
2.3  Gejala serangan Penyakit
Gejala yang diakibatkan oleh bakteri yaitu timbulnya gejala penyakit disebabkan karena adanya interaksi antara tanaman inang dan patogen.  Penanaman gejala penyakit dapat didasarkan kepada tanda penyakit, perubahan bentuk, tanaman, pertumbuhan tanaman dan sebagainya.  Parasit yang menyebabkan penyakit pada tanaman pada umumnya membentuk bagian vegetatifnya di dalam jaringan tanaman sehingga tidak tampak dari luar.  Tetapi walaupun demikian ia membentuk bagian reproduktifnya pada permukaan tanaman yang diserangnya atau hanya sebagian tampak  pada permukaan  tersebut.  Selain  itu  sering terjadi  pembentukan  propagul  dalam bentuk istirahat pada permukaan tanaman (Filzaharani, 2008). 
Gejala tanaman yang terserang virus menunjukkan adanya perubahan bentuk atau morfologi tanaman dan nekrosis (kerusakan jaringan).  Keadaan fisiologis tanaman juga terganggu seperti berkurangnya kegiatan fotosintesa, kecepatan respirasi bertambah, terjadinya akumulasi senyawa nitrogen seperti senyawa amida, dan penurunan aktivitas zat pengatur pertumbuhan dan sebagainya.  Gejala eksternal pada penyakit yang tampak dapat terjadi pada daun, batang, bunga, buah, biji, akar dengan berbagai tipe gejala penyakit tergantung dari macam virus yang menyerang dan tanaman inangnya.  Gejala penyakit yang umum dari infeksi virus ialah terhambatnya pertumbuhan yang mengakibatkan menurunnya hasil dan tanaman lebih cepat mati.  Gejala penyakit yang ditimbulkannya dapat sangat berat atau sangat ringan sekali sehingga tidak tampak jelas.  Gejala yang paling jelas biasanya terdapat pada daun seperti timbulnya mozaik.  Tetapi ada sejumlah virus yang dapat menimbulkan gejala penyakit pada batang, buah, akar dan sebagainya tapi tidak terlihat pada daun.  Kebanyakan penyakit virus tanaman bersifat sistemik dan virus yang penyebab sendiri terdapat diseluruh bagian tanaman.  Gejala yang ditimbulkannya disebut gejala sistemik.  Tapi untuk virus tertentu dan pada tanaman tertentu, gejala serangnya bersifat lokal dengan timbulnya gejala nekrosa ditempat terjadinya infeksi oleh virus.  Gejala semacam ini disebut gejala lokal.Tipe gejala penyakit virus yang banyak terdapat pada tanaman ialah mozaik, kuning dan bercak bercincin atau bercak bergaris.  Gejala lainnya ialah penghambatan pertumbuhan, kerdil, daun menggulung, mengkerut atau berubah seperti tali sepatu, roset, nekrosis, floem batang berlekuk-lekuk, buah berlekuk-lekuk, tumor, inesiasi, percabangan berbentuk sapu           (Sukamto, 2008). 
2.4  Pengendalian Penyakit
Cara pengendalian penyakit yaitu dengan memperketat karantina pada tanaman agar tidak menular pada lokasi lain. Pengendalian bisa dilakukan dengan cara sanitasi. yaitu dengan melakukan rotasi tanaman atau pergiliran tanaman yang tepat akan sangat membantu dalam usaha penanggulangan penyakit layu bakteri. Yang penting untuk diperhatikan adalah menghindari penaman tanaman yang merupakan inang alternatif bakteri dan  Virus. Pengendalian yang lain yaitu membuat drainase yang baik terutama untuk tanah-tanah yang memiliki kondisi basah, yaitu dengan jalan dibuatkan saluran pengeluaran dan pemasukan air,sehingga pada saat berlebihan air dapat dibuang melalui saluran pembuangan dan sebaliknya pada saat tanaman membutuhkan air dapat dimasukan kedalam saluran pemasukan.  Drainase yang baik dapat mengurangi intensitas serangan penyakit, sebab lingkungan tanaman akan dapat dikontrol kelembabannya (Anonim 2009).




III. METODOLOGI
3.1  Tempat dan Waktu
Pelaksanaan praktikum dasar-dasar perlindungan tanaman menganai penyakit pada tanaman yang di sebabkan oleh bakteri dan virus yang bertempat di Laboratorium Hama Dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu. Praktikum ini di laksanakan pada tanggal 17 Desember 2010, pada pukul 14.00 WITA sampai selesai.
3.2  Alat dan Bahan
       Alat yang di gunakan pada praktikum dasar-dasar perlindungan tanaman  menganai penyakit pada tanaman yang di sebabkan oleh bakteri dan virus adalah seperti Alat tulis, kertas  gambar, penghapus dan cutter.
Bahan yang digunakan dalam praktikum dasar-dasar perlindungan tanaman, Tomat (Lycopersium esculentum) yang terserang oleh bakteri Pseudomas solanacearum, tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea) yang terserang oleh Peanut Steap Virus (PStV)  dan Peanut Mottle Virus, (PMoV)  tanaman padi (Oriza sativa) yang terserang Virus  Tunggro, batang pisang dan buah pisang (Musa Sp.) yang terserang Blood Disease Bakterium.



3.3  Cara Kerja
Cara kerja praktikum ini adalah penyiapan spesimen atau bahan yang di perlukan, kemudian mengamati tanaman yang terserang penyakit, setelah itu menggambar bagian-bagian tanaman yang terserang penyakit pada buku gambar yang telah tersedia dan setelah itu memberikan keterangan pada buku gambar.











IV.           HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1    Hasil
Berdasarkan hasil pengamatan morfologi pada Pengamatan Penyakit Tumbuhan yang Disebabkan Oleh Bakteri dan Virus, maka diperoleh hasil sebagai berikut :
Keterangan :
1.      Daun yang layu
2.      Pangkal batang berlendir saat dipotong



Gambar 37.  Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum) yang Terserang Bakteri  Pseudomonas solanacearum
Keterangan :
Bercak-bercak hitam pada tulang daun






Gambar 38.  Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogeae)  yang Terserang            Peanut Strip Virus (PStV)

Keterangan :
Bercak kecil hitam kecokelatan yang dilingkari oleh warna kuning seperti halo.






Gambar 39.  Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogeae)  yang Terserang            Peanut Mottle Virus (PMoV)
Keterangan :
1.            daging buah keras dan berwarna cokelat kehitaman
2.            terdapat warna kemerahan seperti darah

                                                                                                   


Gambar 40.  Batang dan Buah Pisang (Musa paradisiaca L.) yang Terserang Penyakit  Blood Disease Bacterium






4.2  Pembahasan
4.2.1  Gejala serangan
Dari hasil pengamatan morfologi tanaman tomat (Lycopersicum esculentum) terlihat bahwa gejala yang disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum pada tanaman tomat memiliki daun yang layu, buah tomat yang kecil dan keriput dan pangkal batang berlendir saat dipotong. 
Gejala serangan yang disebabkan oleh Pseudomonas solanacearum yang nampak adalah daun tomat menjadi layu yang dimulai dari pucuk daun dan daun bagian bawah.  Tanaman akan nampak seperti kekurangan air.  Tanaman juga terlihat kerdil, daun menggulung ke bawah, dan terkadang terbentuk akar adventif sepanjang batang tomat.  Tanaman yang terserang biasanya akan roboh dan mati.  Jika pangkal batang dipotong melintang atau membujur, akan terlihat berkas pembuluh berwarna cokelat muda atau tua (Hermanto, 2008).         
Dari hasil pengamatan morfologi tanaman kacang tanah (Arachis hypogeae) terlihat bahwa gejala yang sebabkan oleh Peanut Strip Virus (PStV) pada tanaman kacang tanah yaitu pada tulang daun terdapat bercak berwarna hitam kekuningan.
Gejala yang ditimbulkan dari penyakit bilur pada tanaman kacang tanah. Daun tanaman yang terinfeksi menunjukkan gejala bercak hijau atau bilur yang dikelilingi garis klorotik dan agak berkerut.  Pada perkembangan lebih lanjut muncul gejala mosaik.  Gejala lainnya adalah bercak tak beraturan (blotch ) atau garis-garis klorotik pada daun, tergantung pada strain PStV yang menyerang.  Serangan PStV dapat menyebabkan pertumbuhan tanamanterhambat dan produksi kacang tanah menurun (Anonim, 2009).   
Dari hasil pengamatan  morfologi tanaman kacang tanah                          (Arachis hypogeae) terlihat bahwa gejala yang sebabkan oleh Peanut Mottle Virus (PMoV) pada tanaman kacang tanah yaitu pada daun terdapat bercak kecil hitam kecokelatan yang dilingkari oleh warna kuning seperti halo.
Gejala yang ditimbulkan dari Peanut Mottle Virus (PMoV) pada tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea) yaitu pada helaian anak daun terdapat gambaran belang-belang yang tidak teratur, berwarna hijau tua dan hijau muda.  Infeksi yang terjadi pada waktu penanaman yang muda sering menyebabkan terjadinya gejala belang dengan cincin-cincin klorosis.  Pada penampang melintang, daun akan tampak sel-sel epidermis tidak teratur bentuk maupun susunannya.  Sel-sel palisade berdesak-desakan dan bentuknya silindris  (Kumoro, 2008).
Dari hasil pengamatan morfologi buah dan empulur pisang                    (Musa paradisiaca L.) terlihat bahwa buah pisang dan empulur pisang yang terserang Blood Disease Bacterium pada buah pisang memiliki gejala daging buah keras dan berwarna cokelat kehitaman dan terdapat warna kemerahan seperti darah pada daging buah   dan empulur batang tanaman pisang.
Gejala serangan oleh Blood Disease Bacterium hanya terjadi pada pisang kapok/sepatu umumnya buah hampir menyelesaikan proses pemasakan, kemudian tampak seperti dipanggang berwarna kuning coklat, layu dan  busuk.  Kerusakan oleh penyakit darah yang disebabkan oleh Blood Disease Bacterium (BDB) yang ditandai oleh pembusukan daging buah, sehingga daging buah busuk coklat kemerahan menyerupai darah.  Buah yang terserang isinya terlarut sedikit demi sedikit dan berisi cairan seperti lendir berwarna merah kecoklatan yang mengandung sangat banyak bakteri  (Hermanto, 2008).     
Gejala yang ditimbulkan oleh Blood Disease Bacterium yaitu daun bawah berwarna kuning tua yang akan menjadi cokelat dan akan mengering.  Gejala yang paling khas adalah gejala dalam.  Pada saat tanaman mati, jamur akan tumbuh menyebar dari xylem ke jaringan sekitarnya, membentuk klamidospore  (spora istirahat) yang mampu bertahan dalam perakaran tanaman inang alternatif sampai 30 tahun.  Jika pangkal batang pisang dibelah membujur, akan terlihat garis-garis cokelat atau hitam menuju ke semua arah yang dimulai dari batang (bonggol) ke atas melalaui jaringan pembuluh ke pangkal daun dan tangkai (Hermanto, 2008).
4.2.2  Siklus hidup
Daur hidup pada Tomat penyakit layu bakteri yaitu menginfeksi tanaman yang melalui jaringan pengangkut air sehingga transportasi air tomat ke jaringan pembuluh tanaman menjadi tergangu, sehingga tidak dapat berkembang biak          ( Setiadi, 2000).
Daur hidup pada Tanaman Kacang Tanah  yang diserang PStV yaitu daun tua biasanya tidak di serang karena tidak memilki haustoiium yang tidak bisa menembus kutikula, virus ini dapat mempertahankan dirinya pada tanaman kacang tanah yang tumbuh liar   (Nasir, 2007).
Daur hidup penyakit yang di sebakan oleh Virus  Peanut Mottle Virus (PMoV) yaitu tanaman yang terinfeksi inokulasi mekanis atau inokulasi sap, Aphid. dan benih   (Nasir, 2007).
Daur hidup pada tanaman pisang yang di sebabkan oleh                         (Blood Disease Bakterium). Yaitu melalui udara dan menginfeksi buah-buah yang dapat di lakukan oleh serangga. Virus juga dapat menginfeksi tanaman memlalui pembuluh batang dan akar. Penyakit kemudian perkembang biakanya bergantung pada umur tanaman, keadaan lingkungan, temperature udara dan pengairan yang ada  (Hidayat,2000).
4.2.3  Pengendalian penyakit
Pengendalian dari bakteri Pseudomonas solanacearum  yaitu dengan melakukan rorasi tanaman dengan tanaman yang berbeda famili dan yang terserang penyakit, melakukan drainase yang baik,  membersihkan lahan dari gulma, dengan mencabut dan membakar tanaman yang terserang penyakit, biji atau umbi yang disemai bebas dari penyakit dan solarisai yaitu setelah dicangkul tanah ditutup dengan plastik transparan  beberapa  minggu  atau beberapa  bulan guna  untuk mensterilkan  tanah  (Sukamto2008).
Pengendalian Peanut Strip Virus (PStV) dapat dilakukan dengan menanam benih yang bebas dari virus yang diperoleh dari pertanaman yang sehat, menanam jenis tanaman yang tahan terhadap virus maupun kutu daun yang bertindak sebagai vector, melakukan penanaman lebih awal, mencabut tanaman dan membakar tanaman yang  terkena penyakit, membersihkan gulma       (Fachruddin, 2000).
Pengendalian dari Peanut Mottle Virus (PMoV) dapat dilakukan dengan penanaman varietas kacang tanah yang tahan terhadap penyakit, mencabut dan membakar tanaman yang terserang penyakit, melakukan pergiliran tanaman.  (Fachruddin, 2000).
Pengendalian dari Blood Disease Bacterium dapat dilakukan dengan melakukan sanitasi areal penanaman, buah pisang yang terserang ditanam dalam tanah, sehingga bakteri tidak akan menyebar, peralatan yang akan dipergunakan harus disteril/bersih dari penyakit, melakukan pemupukan dengan bahan organik untuk membunuh bakteri perusak, menebang tanaman pisang yang terserang penyakit dan membakarnya, melakukan pembungkusan tandan buah dan proteksi terhadap bunga tanaman pisang dari vektor serangga yaitu dengan di bungkus dengan kain, kertas agar tidak di kunjungi oleh serangga penular (Sukamto, 2008).
Pengendalian dari Blood Disease Bacterium dapat dilakukan dengan tidak menanam jenis pisang yang rentan terinfeksi patogen,  melakukan pemupukan dengan bahan organik untuk membunuh bakteri perusak, menebang tanaman pisang yang terserang penyakit dan membakarnya, melakukan proteksi terhadap bunga tanaman pisang dari vektor serangga yaitu dengan membungkus dengan kain atau  kertas agar  tidak di kunjungi oleh serangga penular (Anonim, 2009).    
Alternatif lain untuk pengendalian penyakit ini adalah menggunakan bakteri endofit yang memiliki ruang hidup yang sama dengan pathogen.  Bakteri endofit diisolasi dari batang pisang sehat dari pertanaman yang terinfeksi. Isolat-isolat bakteri diuji kemampuan penghambatannya terhadap bakteri penyakit darah melalui mekanisme antibiosis pada media agar-agar King B dan kemampuan berkompetisi dalam media cair King B.  Dari penelitian ini diperoleh satu isolat (CA8) yang menghasilkan zona hambatan dengan diameter mencapai 10 mm dan dua isolat (CA8 dan PK5) yang menghasilkan penekanan terhadap populasi bakteri penyakit darah relatif paling tinggi dibandingkan dengan 13 isolat lainnya (Anonim, 2009).














V. KEIMPULAN DAN SARAN
5.1  Kesimpulan
Berdasarakan pengamatan yang kami lakukan maka di peroleh kesimpulan sebagi berikut:
1.  Virus dan bakteri merupakan organisme yang berukuran yang sangat kecil (mikroorganisme),yang dapat dilihat dengan mengunakan mikroskop.
2.  Tanaman yang terserang bakteri pada umumnya menjadi kering dan apa bila di potong pada batangnya atau buah akan mengeluarkan lendir yang berisi bakteri tanaman. Tanaman yang terserang virus, gejala serangan yang di timbulkan berupa bercakak atau belang pada daun.
3.  Pengendalian dapat di lakukan dengan mengadakan pergiliran tanaman, dan dengan cara sanitasi, yaitu dengan membuang bagian tanaman yang teserang jauh keluar areal pertahanan, dan juga dengan cara mengatur jarak tanam.
5.2.  Saran
Saran saya yaitu agar pada praktikum, praktikan dapat menyiapkan bahan yang akan digunakan, agar praktikum dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan yang diinginkan.




DAFTAR PUSTAKA
--------------------   1989. Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura.  Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

               2004. Hama penyakit tanaman. Swadaya Jakarta.

Anonim, 2007.  Hama Pada Tanaman Pangan.http://www.Edukasi.net/mol/mo_full.php?Moid=78&Fname=Bio111_19.Htm. Diakses pada tanggal 30 oktober 2009. 

Fachruddin, L., 2000.  Budidaya Kacang-Kacangan.  Kanisius, Yogyakarta.

Filzaharani, 2008.  Klasifikasi Virus.  http://wordpress.com/2008/10/31/klasifikasi-virus,html.  Di akses pada tanggal 29 November 2008. 

Hermanto, C .,2008.  Penyakit-Penyakit Pisang dan Upaya Pengendaliannya.    http://www.isekolah.org /pustaka_detail.php?html.  Di akses pada tanggal 29 November 2008. 

Kumoro, K., 2008.  Penyakit-Penyakit Pisang di Pulau Lombok dan Upaya  Pengendaliannya.  http://web.ipb.ac.id/~lppm/ID/penyakit-penyakit-pisang-di-pulau lombok-dan-upaya-pengendaliannya.php.  Di akses pada tanggal 29 November 2008. 
   
Nawangsih, A. A., 2008.  Virus Belang pada Kacang Tanah. http:// books. google.co.id/books? Virus-belang-pada-kacang-tanah.html.  Di akses pada tanggal 29 November 2008.     

Pracaya, 2007. Hama penyakit tanaman. http://agushalim.blogspot. com/2008/01/ Hama Penyakit Tanaman.html.  Diakses pada tanggal 14 November 2007. Penebar Swadaya Jakarta.

Runtumewa, C., 2008.  Morfologi Bakteri. http://one.indoskripsi.com/node/4131 morfologi-bakteri.  Di akses pada tanggal 29 November 2008.   

Semangun, H., 1997.  Penyakit-Penyakit Tanaman Pangan.  Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. 

Setiadi, 2000. Bertanam Tomat. Penebar Swadaya, Jakarta.

Suseno, R., 2008.  Bakteri. http://id.wikipedia.org/wiki/Bakteri.  Di akses pada tanggal 29 November 2008. 





1 komentar:

Search Our Site

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter